Ohayo Jepang
Powered by

Share this page

Keju Raclette, Santapan Pas di Musim Dingin

Kompas.com - 4/Dec/2018, 09:48 WIB
Keju raclette di Jepang dikenal juga sebagai keju heidi, diambil dari nama karakter animasi gadis kecil yang terkenal di negeri sakura ini.
Keju raclette di Jepang dikenal juga sebagai keju heidi, diambil dari nama karakter animasi gadis kecil yang terkenal di negeri sakura ini.

OhayoJepang - Di Jepang, keju raclette dikenal juga sebagai “keju heidi”, diambil dari nama karakter animasi gadis kecil yang terkenal di negeri sakura ini.

Cara penyajiannya adalah dengan memanaskan permukaan keju di dalam oven khusus raclette lalu bagian yang meleleh dibalutkan di atas kentang atau makanan lainnya.

Makanan yang terkenal dari Swiss ini makin sering terlihat di seluruh wilayah di Jepang, termasuk di daerah Kanagawa.

Keju raclette di Jepang .
Keju raclette di Jepang .

Salah satu makna dari kata “raclette” sendiri adalah keruk. Di daerah Kanagawa ini, selain cara di atas, terdapat beberapa toko yang menyajikan keju raclette dengan caranya sendiri.

Keju yang memiliki aroma dan rasa yang kuat ini akan jadi lebih sedap bila dipanaskan dan sangat cocok untuk digunakan pada masakan. Merupakan santapan yang pas di musim dingin karena dimakan panas-panas.

CHEESE X PARADISE

Toko yang diperbarui dan dibuka kembali tahun 2016 ini, terkenal dengan menu populernya yang menggabungkan keju dan daging.

Keju raclette di Jepang dikenal juga sebagai keju heidi, diambil dari nama karakter animasi gadis kecil yang terkenal di negeri sakura ini.
Keju raclette di Jepang dikenal juga sebagai keju heidi, diambil dari nama karakter animasi gadis kecil yang terkenal di negeri sakura ini.

Terdapat 6 jenis daging seperti sapi, babi, ayam, kuda, dan lainnya, juga 10 jenis keju yang bisa dikombinasikan sesuai selera.

Karena berkonsep dasar sebagai restoran Italia, mereka hanya menggunakan bahan pilihan, seperti pasta bertekstur kenyal “Awaji Mengyou” dari Prefektur Hyogo, Jepang.

Provided by Walkerplus™, Yokohama Walker™  (February 2017)

Editor : Ni Luh Made Pertiwi F

KOMENTAR