Versi audio AI dari Saudari Raijin telah dibagikan kepada Museum Nasional Ainu Upopoy.
Data itu kini digunakan untuk melatih para aktor teater.
Bagi telinga yang kurang terlatih, rekaman dengan suara mirip seorang perempuan tua, terdengar sangat alami, dengan jeda yang jelas dan sejumlah infleksi nada yang biasa terdengar dari penutur asli.
Walau begitu, rekaman itu terdengar agak cepat.
"Saya berharap AI semacam ini dapat membantu orang-orang di Hokkaido, baik leluhur Ainu maupun kaum muda, untuk mempelajari bahasa Ainu," kata Kawahara.
Kawahara berkata, AI juga memungkinkan terciptanya avatar virtual, yaitu asisten pengajar Ainu yang dapat membimbing para pembelajar.
Timnya juga berharap dapat menangkap lebih banyak dialek Ainu dengan AI serta menyertakan konten dari generasi muda, bukan hanya rekaman lama.
Saat ini, kemampuan penerjemahan AI itu sebanding dengan kemampuan mahasiswa pascasarjana bahasa Ainu, klaim para peneliti.
Saat melakukan transkripsi beberapa penutur, akurasi pengenalan kata AI mencapai 85%.