Kisah itu disampaikan dengan melodi, korus yang berayun-ayun antara frasa Ainu yang dinyanyikan dan vokalisasi gonggongan.
Namun saat duduk di bangku sekolah, tidak ada satupun teman Maya yang mengerti bahasa Ainu.
Meskipun ibu dan kakek-neneknya tahu beberapa frasa dalam bahasa tersebut, mereka sebagian besar berbicara bahasa Jepang.
Orang dewasa lainnya di sekitar Maya sama sekali tidak bisa berbicara bahasa Ainu.
Baca juga:
Perlahan dia menyadari, bahasa dan budaya keluarganya tengah menuju kematian.
Sekarang hanya segelintir penutur asli Ainu yang tersisa. Bahasa ini ada di dalam daftar UNESCO dengan predikat "sangat terancam punah".
Merujuk sejumlah arsip, pada tahun 1870—satu tahun setelah Ezo atau Ezochi (sekarang disebut Hokkaido) dinyatakan sebagai bagian dari Jepang—masih terdapat sekitar 15.000 orang berbicara dalam ragam bahasa Ainu lokal.
Mayoritas dari mereka tidak berbicara dalam bahasa lain.
Namun berbagai kebijakan pemerintah Jepang, termasuk pelarangan bahasa Ainu di sekolah, hampir memusnahkan bahasa dan budaya tersebut.