Dia pernah menyembunyikan identitas leluhurnya ketika pindah untuk sekolah menengah.
Baru setelah masuk universitas, Maya percaya diri untuk merangkul identitas aslinya dan secara aktif mempromosikan budaya Ainu.
Kini, Maya menjadi bagian dari generasi muda yang berusaha mendefinisikan ulang arti menjadi orang-orang berdarah Ainu.
"Bahasa adalah hal terpenting bagi kami. Bahasa adalah hubungan antara budaya dan nilai-nilai kami," kata Maya.
"Keluarga juga. Kami memiliki keluarga besar; kami berkumpul setiap malam dan makan malam. Ini adalah nilai-nilai Ainu," ujarnya.
Meskipun saat ini hanya ada sedikit penutur bahasa Ainu, terdapat banyak sekali kisah lisan yang tersimpan.
Dalam beberapa tahun terakhir, para peneliti memanfaatkan arsip audio untuk menghidupkan kembali bahasa Ainu.
"Dengan menggunakan teknologi, proses ini sebagian besar telah terotomatisasi. Mereka sekarang memiliki 300 hingga 400 jam data tentang bahasa Ainu," kata Tatsuya Kawahara, pakar informatika di Universitas Kyoto, yang memimpin proyek pelestarian rekaman Ainu.
"Kualitas suaranya kurang bagus karena banyak yang direkam menggunakan perangkat analog di rumah-rumah, yang terkadang berisik. Pekerjaan ini sangat menantang," ujarnya.
Dengan dukungan dana pemerintah, Kawahara dan rekan-rekannya menggunakan sekitar 40 jam rekaman yang menampilkan uwepeker—istilah untuk prosa naratif Ainu.