"Saya tahu saya istimewa dan beruntung," tambahnya.
Meskipun banyak ciri khas Ainu telah hilang seiring waktu, pengetahuan asli masyarakat ini tetap bertahan, termasuk lebih dari 80 cara berbeda untuk mendeskripsikan beruang, menurut ayah Maya, Kenji Sekine.
Bahasa Ainu mencerminkan hubungan masyarakat dengan alam dan penghormatan mereka terhadap makhluk hidup lainnya.
"Dalam cara berpikir Ainu, segala sesuatu selain manusia adalah 'kamuy' (dewa atau dewa spiritual). Beberapa hewan sering disebut 'kamuy', seperti 'kimunkamuy' (beruang) dan horkewkamuy (serigala)," ujar Kenji.
Meskipun Ainu diakui sebagai bahasa nasional kedua, bahasa ini tidak termasuk dalam kurikulum sekolah di Hokkaido.
"Siswa tidak memiliki kesempatan untuk mempelajari budaya dan bahasa Ainu," kata Hirofumi Kato, arkeolog sekaligus Direktur Stasiun Global untuk Studi Indigenitas dan Keragaman Budaya di Universitas Hokkaido.
"Hanya ada satu gambaran stereotip tentang budaya dan sejarah Jepang. Sistem pendidikan memperkuat perspektif monokultural ini," jata Hirofumi.
Penghapusan sejarah ini menyulitkan masyarakat Ainu untuk terhubung dengan akar mereka atau menavigasi identitas mereka dalam masyarakat Jepang modern.
Meskipun minat baru terhadap budaya Ainu telah mendorong lebih banyak representasi orang Ainu di media arus utama, misalnya dalam manga, selama ini terjadi berbagai kasus apropriasi budaya.
Semasa kecil, Maya merasa terbebani oleh tekanan melestarikan budaya Ainu.