Ohayo Jepang
Powered by

Share this page

Fakta & Data

Lebih dari Seabad Terpinggirkan, Bahasa Ainu di Jepang Dihidupkan Lagi Lewat AI

Kompas.com - 29/08/2025, 09:32 WIB

Walau begitu, kecerdasan buatan untuk pengenalan dan pembangkitan suara telah berkembang pesat, kata Francis Tyers, penasihat linguistik komputasional di Common Voice.

Saat ini, para pengembang merilis sistem AI yang mencakup ratusan bahasa—sesuatu yang mustahil lima tahun yang lalu.

"Dalam dunia yang ideal, teknologi bahasa dibuat oleh penutur, untuk penutur," kata Tyers.

Dia mencontohkan Spanyol, negara dengan banyak sistem penerjemahan mesin yang menargetkan bahasa-bahasa yang kurang terlayani seperti Katalan atau Basque dipelopori oleh anggota komunitas tersebut sendiri.

Dalam kasus lain, ketika penutur asli langka atau bahkan tidak ada, para pemimpin dapat memastikan, masyarakat adat memiliki wewenang atas bagaimana dana publik dibelanjakan untuk melestarikan atau mengembangkan perangkat pembelajaran bahasa.

Tyers mencontohkan proyek bahasa Sámi. Masyarakat Sámi tinggal di wilayah Sápmi, yang membentang di wilayah utara Norwegia, Swedia, Finlandia, dan Semenanjung Kola di Rusia.

"Masyarakat Sámi yang terlibat dalam proyek tersebut adalah mereka yang membuat keputusan keuangan politik," kata Tyers.

Upaya untuk meningkatkan representasi Ainu terus berlanjut. Maya dan ayahnya, Kenji, berharapan lebih banyak orang Ainu akan fasih berbahasa di masa depan.

Sebaliknya, mereka ingin masyarakat Jepang lebih memahami dan merangkul aspek unik dari warisan adat daerah ini.

Generasi muda terus menciptakan kata dan frasa baru dalam bahasa Ainu, termasuk "imeru kampi". Imeru berarti sambaran petir, sementara kampi berarti surat— keduanya telah menjadi istilah Ainu untuk "surel".

"Bahasanya sendiri tidak akan sama seperti di zaman kuno, tapi tidak apa-apa," kata Kenji.

"Setiap bahasa itu hidup, dinamis, dan terus berubah."

Sumber:

  • BBC (https://www.bbc.com/indonesia/articles/c5y3j4pg35xo)
@ohayo_jepang Ngopi = Meet up & Chit-Chat Bareng Temen? Nggak Berlaku di Jepang! Di Indonesia, coffee shop sering jadi tempat untuk ngobrol bareng teman, rapat santai, atau sekadar seru-seruan sambil pesan es kopi susu. Tapi beda halnya di Jepang. Budaya ngopi di sana lebih personal: ✅ Datang sendiri ✅ Suasana tenang ✅ Fokus untuk baca buku, kerja, atau sekadar menikmati kopi tanpa gangguan. Coffee shop di Jepang jadi tempat me time, bukan ajang kumpul-kumpul. Itulah kenapa kamu jarang nemu suasana ramai atau bising di sana. 📌 Jadi, kalau ke Jepang dan suasana cafenya sunyi, jangan kaget ya — kamu sedang ada di zona recharge khas Jepang. Polling: Kamu tim ngopi rame-rame atau me time sendirian? A. Rame-rame lebih seruu B. Sendiri aja, mau me time! Kreator Konten: Salma Aichi Produser: Luthfi Kurniawan Penulis: Yuharrani Aisyah #OhayoJepang #HidupdiJepang #KerjadiJepang #MagangdiJepang #Tinggaldijepang #BudayaJepang ♬ เสียงต้นฉบับ - kittikmr - veesun95
Editor : YUHARRANI AISYAH

Komentar

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
 
Pilihan Untukmu
Close Ads

Copyright 2008 - 2024 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.