"Kami mempelajari bahasa dengan sumber daya yang sangat rendah dengan penutur asli di Kamerun karena mereka ingin mempelajarinya. Itulah mengapa penting untuk melatih anggota komunitas. Jika Anda mengajari mereka, mereka dapat memprioritaskannya," ujarnya.
Meskipun beberapa keturunan Ainu menyambut baik minat pemerintah dalam pelestarian budaya asli, para kritikus menilai Jepang belum mengatasi ketidakadilan historis dan memberikan hak-hak fundamental.
Beberapa pihak berpendapat bahwa Museum Nasional Ainu Upopoy merupakan kelanjutan lain dari kebijakan asimilasi Jepang.
Museum ini menyimpan tulang-belulang manusia Ainu yang ingin diambil kembali oleh masyarakat Ainu.
"Upopoy tampak seperti contoh lain bagaimana Jepang menggunakan kekuasaan mereka atas Ainu," ujar aktivis Ainu, Shikada Kawami.
"Saya tidak tahu berapa banyak Ainu yang menyadari sejauh mana mereka masih dieksploitasi," ujarnya.
Menurut Kawahara, Museum Nasional Ainu memegang hak cipta atas data asli yang digunakan untuk mengembangkan sistem tersebut, dengan persetujuan dari keluarga para penutur.
Laboratorium tersebut memiliki hak atas sistem AI itu sendiri. "Namun, sistem ini tidak akan berfungsi tanpa data," ujarnya.
Di masa mendatang, verifikasi kinerja AI akan sulit dilakukan mengingat minimnya penutur Ainu, kata Sara Hooker, kepala Cohere for AI, sebuah lembaga nirlaba yang bertindak sebagai divisi riset untuk perusahaan teknologi Cohere.
"Ketika kami memikirkan sistem multibahasa dan jangkauan global, yang penting bukan hanya memastikan bahasa-bahasa tersebut tercakup, tapi memastikan nuansa dan cara orang menggunakan model-model ini setiap hari cukup kaya untuk melayani masyarakat," tuturnya.