Tinggal dan bekerja di luar negeri sering kali mengubah seseorang, termasuk bagi Ifah.
Menjadi pekerja dengan status Specified Skilled Worker (SSW) di Jepang bukan sekadar soal pindah negara.
Bagi Ifah, ini adalah proses menemukan jati diri dan membentuk pola pikir baru.
Tiga tahun lalu, Ifah adalah sosok yang bergantung pada orang lain untuk banyak hal.
Namun, hidup di Jepang yang menuntut kemandirian dan ketangguhan perlahan membentuknya menjadi pribadi yang lebih kuat dan dewasa.
Artikel ke-18 dari seri SSW ini mengulas bagaimana Ifah tumbuh, bukan hanya sebagai pekerja, tetapi juga sebagai individu yang lebih percaya diri dan mandiri.
Saat ditanya tentang perubahan paling besar yang ia alami sejak tinggal di Jepang, Ifah menjawab tanpa ragu.
Dengan nada tenang dan serius, ia mengenang masa-masa awalnya di negeri sakura.
"Dulu, saya sangat tergantung pada orang lain. Saya enggak suka melakukan apa pun sendirian. Kalau ke luar rumah atau mengerjakan tugas sehari-hari, saya selalu ingin ada teman. Tapi di Jepang, saya enggak bisa begitu. Saya harus melakukan semuanya sendiri. Awalnya berat, tapi lama-lama saya sadar, kemandirian bikin saya lebih kuat. Saya jadi percaya diri dan bangga bisa menyelesaikan semuanya sendiri."
Apa yang dulu terasa seperti kesepian kini justru menjadi sumber kekuatannya.
Ifah tak lagi menunggu bantuan, ia bergerak maju dengan usahanya sendiri. Itu pula yang membentuk pertumbuhan pribadinya.
Selain itu, kariernya juga berkembang pesat. Ifah mendapat promosi, sesuatu yang tak ia duga akan terjadi secepat ini.
"Iya, saya dipromosikan. Saya juga kurang tahu alasannya apa, tapi katanya atasan saya sebelumnya merekomendasikan saya. Mereka bilang saya cepat bekerja, gampang bergaul, dan komunikasinya baik. Di Jepang itu disebut hourensou—lapor, komunikasi, dan konsultasi. Kayaknya itu yang paling banyak saya pelajari."
Ifah menyampaikan ini sambil tertawa kecil. Namun jelas, promosi itu bukan sekadar keberuntungan, melainkan hasil dari kerja konsisten dan kemauan untuk terus berkembang.
Baca juga:
Budaya Jepang tak hanya mengubah cara Ifah bekerja, tetapi juga membentuk rutinitas hariannya menjadi lebih teratur dan penuh kesadaran.
Ia jadi lebih peduli pada kebersihan, kesehatan, dan tujuan hidup.
"Di Jepang, saya jadi lebih sadar soal kesehatan, kebersihan, dan kemandirian. Dulu saya suka menunda hal-hal kecil, kayak mandi atau beresin tugas pribadi. Tapi sekarang, saya justru suka menantang diri sendiri."
Tantangan terbesar yang kini ia hadapi adalah belajar bahasa Jepang.
Ifah memiliki sertifikat JLPT N4 dan sedang mempersiapkan diri untuk mengikuti tes N2 pada Desember mendatang.
"Saya kagum sama orang yang lulus JLPT N2. Itu target pribadi saya sekarang."
Ifah bukan lagi pribadi yang suka menunda. Kini ia menyambut tantangan, bahkan yang kecil sekalipun, sebagai bagian dari proses pertumbuhan.
Tiga tahun tinggal di luar negeri memberinya cukup waktu untuk refleksi. Ifah tak malu mengakui hal-hal yang ia sesali dan ingin perbaiki.
"Kalau bisa balik ke awal, saya pasti lebih serius belajar bahasa Jepang. Komunikasi itu penting banget. Saya pasti lebih percaya diri kalau dari awal udah lebih siap. Terus, walaupun kita jago bahasa, kalau enggak dipakai, bisa lupa juga. Satu lagi, saya menyesal enggak lebih disiplin urus keuangan!" ujarnya sambil tertawa.
Tawa itu bukan tanda mengabaikan, melainkan bukti bahwa ia mengambil setiap penyesalan sebagai pelajaran yang membentuk dirinya.
Saat ditanya apakah ia punya tujuan baru sebagai SSW, jawabannya sederhana tapi penuh makna.
"Jujur, saya merasa sudah capai apa yang saya impikan. Saya jadi orang yang bisa bantu dan semangatin orang lain, terutama yang baru datang kerja di sini. Itu sosok yang dari dulu ingin saya jadiin."
Bagi Ifah, menjadi versi terbaik dari diri sendiri bukan soal pencapaian pribadi semata.
Kini, ia ingin menjadi seseorang yang menciptakan ruang aman dan dukungan bagi orang lain.
Seri SSW Masih Berlanjut!
Kisah pribadi Ifah mungkin sudah mendekati akhir, tetapi seri ini belum selesai. Nantikan cerita berikutnya yang akan mengulas pengalaman dari para pekerja migran lainnya di Jepang.
Konten ditulis oleh Karaksa Media Partner (Februari 2025)
View this post on Instagram