Di sebuah pulau kecil di Laut Seto, sebuah bangunan dengan atap ubin dan dinding putih berdiri dengan tenang.
Tempat ini bukan hanya sekadar bangunan biasa.
The Missing Post Office adalah sebuah tempat bagi mereka yang ingin tetap “terhubung” dengan orang yang telah meninggal.
The Missing Post Office atau Kantor Pos yang Hilang terletak di Pulau Awashima, yang dapat dijangkau dengan perahu hanya dalam 15 menit dari Mitoyo.
Sejak dibuka pada 2015, kantor pos ini telah menerima ribuan surat dan kartu pos dari orang-orang yang belum siap untuk melepas orang tercinta mereka.
Surat-surat ini ditulis sebagai bentuk pengungkapan perasaan, kenangan, atau sekadar sebuah pesan yang ingin disampaikan.
Melansir Mitoyo Kanko, kantor pos ini awalnya terinspirasi oleh sebuah karya seni yang dipamerkan pada Setouchi Triennale International Art Festival 2013.
Kubota Saya, sang seniman, terinspirasi oleh berbagai benda yang terdampar di pulau Awashima.
Ia membayangkan surat-surat tanpa alamat ini seperti surat dalam botol yang mengapung melintasi laut.
Karya seni tersebut akhirnya memberi tujuan baru bagi bangunan bekas kantor pos yang melayani penduduk Awashima sejak tahun 1964 hingga 1991.
Mengutip Asahi Shimbun (21/7/2023), Kantor Pos yang Hilang menerima lebih dari 55.000 surat dan kartu pos sejak dibuka.
Salah satu surat yang diterima di Kantor Pos yang Hilang datang dari seorang ibu yang berbicara kepada putrinya yang meninggal pada usia 30 tahun.
Dalam surat tersebut, ibu itu menceritakan bagaimana anak-anaknya pulang dengan gembira setelah mendapatkan nilai 100 di ujian mereka.
"Mereka ingin menunjukkan hasilnya kepadamu terlebih dahulu. Mereka meletakkan dan menyebarkan ujian di altar Buddha di depan fotomu. Tolong puji mereka dari surga," tulis ibu tersebut.
Menulis surat-surat itu, kata ibu tersebut, memberinya kedamaian.
Beberapa surat berisi pesan penuh harapan, seperti satu surat dari seorang suami yang meninggal, yang dikirim oleh istrinya yang menulis, “Pernikahan putri sulung kami adalah tahun depan.”
Surat lain datang dari seseorang yang menulis untuk meminta maaf kepada bayi yang meninggal sebelum dilahirkan.
Baca juga:
Pada awalnya, Kantor Pos yang Hilang hadir sebagai bagian dari pameran seni dalam Festival Setouchi Triennale 2013.
Selama festival, Katsuhisa Nakata, yang sebelumnya adalah kepala kantor pos di pulau tersebut, diangkat untuk memimpin kantor pos tersebut sebagai bagian dari proyek seni.
Setelah festival berakhir, Nakata memutuskan untuk melanjutkan proyek ini sebagai sukarelawan.
Ia membuka kantor pos itu untuk umum, meskipun sebenarnya peran kantor pos tersebut sudah berakhir.
Nakata menyimpan surat yang diterima sekaligus menyambut pengunjung yang datang, memastikan fasilitas tetap terawat, dan menanggung biaya pemeliharaan atap dan lantai bangunan.
Setiap orang dapat mengirim surat ke Kantor Pos yang Hilang.
Tidak perlu mencantumkan alamat pengirim, dan surat-surat ini tidak akan dikembalikan.
Surat dan kartu pos diterima dengan bebas, dan pengunjung dapat menulis surat untuk orang yang telah meninggal, untuk masa depan, atau bahkan untuk diri mereka sendiri.
Jika kamu ingin mengirim surat, berikut adalah panduan pengiriman surat ke Kantor Pos yang Hilang:
Kirim surat ke:
[Nama penerima]
C/O The Missing Post Office
1317-2 Awashima Takuma-cho, Mitoyo-shi, Kagawa-ken
JAPAN 769-1108
Selain itu, kamu juga bisa mengirim surat langsung ke lokasi Kantor Pos yang Hilang selama jam operasional, atau memasukkannya ke dalam kotak surat yang tersedia di pintu masuk.
Kantor Pos yang Hilang terletak di 1317-2 Awashima, Takuma-cho, Mitoyo, Kagawa (香川県三豊市詫間町粟島1317‐2) dan buka setiap Sabtu, mulai pukul 13.00 hingga 16.00 JST.
Kantor ini juga mengenakan biaya masuk sebesar 300 yen. Pastikan untuk memeriksa jadwal kunjungan, karena ada beberapa penutupan tidak terjadwal.
Kamu bisa naik feri dari Pelabuhan Suda sekitar 15 menit perjalanan, kemudian berjalan kaki sekitar 5 menit dari Pelabuhan Awashima untuk mencapai Kantor Pos yang Hilang.
Seiring berjalannya waktu, lebih banyak tempat di Jepang yang menawarkan fasilitas serupa, orang bisa mengirim surat kepada yang telah meninggal.
Salah satunya adalah Yomotsu Hirasaka di Matsue, Prefektur Shimane, yang mengadakan upacara ritual setiap Juni untuk mendedikasikan "Surat ke Surga."
Menurut Kyodo News (26/7/2024), terdapat kotak surat yang ditujukan kepada anak yang telah meninggal di Kuil Daishoji di Maizuru, Prefektur Kyoto.
Tradisi ini membantu banyak orang untuk menerima kesedihan dan merayakan kenangan indah dengan orang yang telah pergi.
Menurut direktur emeritus di The Institute of Grief Care Sophia University Yoshiko Takaki, menulis surat semacam ini adalah cara efektif untuk menerima kesedihan.
Hal itu juga sebagai cara mengungkapkan perasaan baru tentang rasa syukur dan penyesalan.
Baca juga:
Sumber:
(KOMPAS.COM/FAESAL MUBAROK)
View this post on Instagram