Ohayo Jepang
Powered by

Share this page

Uniknya Pringles Rasa Sukiyaki, Hanya Dijual di Kanto Jepang

Kompas.com - 13/Mar/2018, 08:11 WIB
Pringles rasa sukiyaki
Pringles rasa sukiyaki

KOMPAS.com - Camilan asal Amerika, Pringles, ini sebetulnya sudah sering berkolaborasi dengan berbagai wilayah di Jepang dan mengeluarkan berbagai jenis rasa yang unik. Pada 2016, mereka mengeluarkan edisi wilayah khusus Kansai yaitu rasa Takoyaki dan menjadi populer berkat rasa mayonesnya yang lezat.

Kali ini, mengusung tema yang sama, Pringles mengeluarkan produk edisi terbatas terbarunya dan telah mulai dijual pada 30 Januari 2018 yang lalu dengan rasa Sukiyaki yang merupakan makanan khas Jepang. Karena hanya dijual di wilayah Kanto, Jepang, camilan ini tidak dapat ditemukan di wilayah lainnya. Tokyo, ibu kota Jepang, masuk dalam wilayah Kanto. 

Pringles rasa sukiyaki
Pringles rasa sukiyaki
Seperti tampak pada kemasan, tertulis “Kanto Gentei” dalam huruf kanji atau dalam Bahasa Indonesia artinya terbatas untuk wilayah Kanto saja dan gambar yang mewakili wilayah Kanto. Produk ini dijual dalam kotak yang terdiri dari 3 kaleng kertas Pringles ukuran kecil.

Pada kemasan tersebut terdapat ilustrasi dari beberapa wilayah yang ada di Kanto, seperti Saitama, Kawagoe, Gunma, Onsen Kusatsu, dan lain sebagainya. Oleh karena itu, camilan ini juga sangat tepat jika dijadikan sebagai oleh-oleh!

Pada kemasan kotak yang dilengkapi dengan desain nabe atau hot-pot, dengan gambar daging yang sedang disepit oleh sumpit. Uniknya, bukan tangan yang digambarkan memegang sumpit, melainkan kentang dari Pringles!

Pringles rasa sukiyaki
Pringles rasa sukiyaki
Rasa manis pedas dari Pringles betul-betul seperti perpaduan sukiyaki dan daging sapi. Keseimbangan rasa keduanya membuat mulut tidak berhenti mengunyah.

Pringles rasa sukiyaki
Pringles rasa sukiyaki
Temukan Pringles di beberapa tempat penjualan oleh-oleh seperti di Stasiun Tokyo dan lainnya. Harga satu kemasan berisi tiga adalah 600 yen (sebelum pajak).

Provided by Japan WalkerTM, Tokyo WalkerTM (15 Januari 2018)

Editor : Ni Luh Made Pertiwi F

KOMENTAR