Ohayo Jepang
Powered by

Share this page

Tanabata Festival, Legenda Sepasang Kekasih yang Dipisahkan Bimasakti

Kompas.com - 7/Jul/2019, 09:27 WIB
Kertas-kertas digantung saat Festival Tanabata
Kertas-kertas digantung saat Festival Tanabata

OhayoJepang - Jepang merupakan negara yang dipenuhi berbagai festival. Pada musim panas, selain festival-festival yang diadakan di kuil, ada pula Festival Tanabata yang diadakan setiap tanggal 7 Juli. 

Awalnya, Festival Tanabata ini diambil dari legenda “Festival Bintang” yang berasal dari Tiongkok. Legenda ini berkisah tentang anak perempuan raja langit bernama Orihime dan pengembala sapi bernama Hikoboshi, yang saling jatuh cinta. 

Keduanya dimabuk cinta sampai-sampai melupakan pekerjaan yang merupakan kewajiban mereka. Melihat kelakuan keduanya, raja langit marah dan memisahkan mereka dengan menempatkan mereka di sisi sungai Ama no Gawa (galaksi bima sakti) yang berbeda. 

Pasangan ini hanya diizinkan bertemu satu tahun sekali, yaitu setiap tanggal 7 Juli. Namun, bila pada hari perayaan ini turun hujan, sungai Ama no Gawa akan meluap. Pasangan ini pun jadi tidak bisa bertemu sampai dengan tahun berikutnya. Oleh karena itu, ada kebiasaan di antara orang Jepang untuk mengharapkan cuaca yang cerah pada tanggal tersebut.

Pertemuan pasangan ini juga digambarkan dengan pola bintang “Segitiga Musim Panas”. Orihime dilambangkan sebagai bintang Vega dan Hikoboshi dilambangkan sebagai bintang Altair. Keduanya terhubung menjadi segitiga besar bersama dengan bintang Dereb. Pada waktu inilah kita bisa melihat galaksi bima sakti berada di antara pola bintang Segitiga Musim Panas. 

Bila kamu berkunjung ke Jepang bertepatan dengan perayaan festival ini, kamu akan menemukan pajangan bambu dengan kertas warna-warni yang menggantung. Pajangan ini biasanya dipasang di mal ataupun shopping street

Jika diperhatikan dengan seksama, pada kertas itu terdapat tulisan yang berisikan harapan. Kebiasaan ini dimulai pada zaman Edo. Pada masa tersebut biasanya orang akan menuliskan harapan seperti “semoga lebih pintar menuliskan kaligrafi” atau “semoga lebih jago sempoa”. 

Pada masa sekarang, kebiasaan ini masih tertinggal dalam masyarakat Jepang dan dirayakan sebagai salah satu acara tahunan. Mereka akan memajang berbagai dekorasi di tempat-tempat umum. 

Selain itu, di sekolah seperti TK ataupun SD, anak-anak akan diajak melakukan aktivitas yang berhubungan dengan festival ini. Anak-anak diajak untuk menuliskan harapan mereka di kertas berwarna-warni dan menggantungkannya di pohon bambu. Lalu mereka memajang bambu tersebut sebagai dekorasi. 

Tanabata Matsuri
Tanabata Matsuri

Tidak hanya itu, di beberapa mal dan shopping street kadang diadakan juga acara yang melibatkan pengunjung, biasanya akan ada booth Tanabata yang membagikan kertas ke pengunjung dan meminta mereka untuk menuliskan harapannya di kertas tersebut. 

Kemudian, pengunjung bisa menggantungkannya ke bambu yang telah disediakan. Aktivitas ini wajib kamu ikuti bila ingin mengenal budaya Jepang mendalam. Kamu bisa mengikuti acara ini secara cuma-cuma alias gratis.

Dekorasi berbentuk bambu ini biasanya dibuat pada tanggal 6 Juli dan dipajang pada malam harinya. Lalu bambu dilepas pada tanggal 7 Juli malam. Namun, pajangan bambu yang ada di mal ataupun shopping street biasanya dipasang dalam periode yang lebih lama, minimal selama satu minggu.     

Sebagai informasi tambahan, meskipun di kebanyakan daerah di Jepang festival ini diadakan pada 7 Juli, tetapi ada beberapa daerah yang merayakannya pada bulan Agustus. Salah satu Festival Tanabata terbesar yang diadakan pada bulan Agustus ini adalah Sendai Tanabata Festival yang terkenal dengan dekorasinya yang megah.

Nah, buat kamu yang akan atau sedang berkunjung ke Jepang saat festival ini berlangsung, jangan lupa untuk coba tuliskan harapanmu dan gantungkan di bambu.

Provided by Karaksa Media Partner (14 Juni 2019)

Editor : Ni Luh Made Pertiwi F

KOMENTAR