OHAYOJEPANG - Tim peneliti dari Universitas Hokkaido menemukan bahwa lautan pada periode Kapur sekitar 70 juta hingga 100 juta tahun lalu, didominasi oleh cumi-cumi.
Hasil penelitian ini dipublikasikan di jurnal Science dan menunjukkan bahwa populasi cumi-cumi jauh lebih besar dibandingkan ammonit maupun ikan, berlawanan dengan anggapan sebelumnya.
Sebagai hewan bertubuh lunak, cumi-cumi jarang meninggalkan fosil. Umumnya, yang tersisa setelah pembusukan hanyalah paruh mereka.
Baca juga:
Tim peneliti mengembangkan teknik digital yang mampu menghasilkan rekonstruksi tiga dimensi dari fosil berukuran sangat kecil untuk meneliti keberadaan cumi-cumi purba.
Menurut Kyodo News (30/8/2025), prosesnya dilakukan dengan memotret irisan batu setebal seper-seratus milimeter secara berulang, lalu menggabungkannya menjadi bentuk utuh.
Mereka menganalisis batuan dari periode Kapur yang ditemukan di Pulau Hokkaido.
Hasilnya, sebanyak 263 fosil paruh cumi-cumi berhasil diidentifikasi, dengan rata-rata panjang sekitar empat milimeter.
Berdasarkan bentuk paruh, peneliti mengklasifikasikan fosil tersebut ke dalam 40 spesies, beberapa di antaranya mirip dengan cumi-cumi modern.
Temuan ini memperlihatkan bahwa meski tubuh lunak sulit diawetkan, teknologi memungkinkan penelitian lebih mendalam terhadap kehidupan laut purba.