Ohayo Jepang
Powered by

Share this page

Fakta & Data

4 Dampak Letusan Gunung Fuji Menurut Simulasi Pemerintah Jepang

Kompas.com - 30/08/2025, 17:14 WIB

OHAYOJEPANG - Pemerintah Jepang merilis video simulasi berdurasi 10 menit yang menggambarkan skenario letusan besar Gunung Fuji, setara dengan letusan terakhir pada tahun 1707.

Video ini dirilis melalui situs web Kantor Kabinet Jepang bertepatan dengan peringatan Volcanic Disaster Preparedness Awareness Day pada 26 Agustus 2025.

Melansir Kyodo News (30/8/2025), simulasi menggunakan teknologi computer graphics untuk memperlihatkan kondisi setelah letusan.

Dalam video tersebut, pemerintah memperingatkan bahwa pasokan listrik, sistem pembuangan limbah, jalan, hingga jalur kereta api akan terdampak jika letusan besar benar-benar terjadi.

Upaya ini menjadi bagian dari strategi pemerintah Jepang untuk meningkatkan kesadaran masyarakat menghadapi potensi bencana gunung berapi.

Simulasi letusan Gunung Fuji ini dibuat berdasarkan skenario yang pernah dirilis Dewan Manajemen Bencana Pusat pemerintah Jepang pada 2020.

Gunung Fuji berada di perbatasan Prefektur Yamanashi dan Shizuoka, kawasan yang juga menjadi lokasi Mount Fuji Research Institute.

Toshitsugu Fujii, profesor emeritus Universitas Tokyo sekaligus Direktur Mount Fuji Research Institute, tampil dalam video simulasi tersebut.

“Cukup tidak biasa Gunung Fuji belum meletus selama lebih dari 300 tahun. Rata-rata, Gunung Fuji biasanya meletus setiap 30 tahun sekali,” ujar Toshitsugu Fujii dalam rekaman itu.

Ia menambahkan bahwa dirinya tidak akan terkejut jika letusan terjadi kapan saja.

Baca juga:

Gunung Fuji dari sisi Prefektur Shizuoka, Jepang.
Gunung Fuji dari sisi Prefektur Shizuoka, Jepang.

1. Gangguan pada Infrastruktur Vital

Simulasi letusan Gunung Fuji menunjukkan dampak serius terhadap infrastruktur di wilayah sekitar.

Pasokan listrik diprediksi akan terganggu akibat abu vulkanik yang menyebar luas.

Sistem pembuangan limbah juga terancam rusak karena aliran air yang terhambat material vulkanik.

Jalan raya dan jalur kereta diperkirakan tidak bisa berfungsi optimal.

Kerusakan infrastruktur ini dapat menyulitkan mobilitas masyarakat di kawasan Yamanashi dan Shizuoka, tempat Gunung Fuji berada.

Peringatan ini menjadi pengingat pentingnya kesiapan dalam menghadapi kemungkinan bencana besar.

2. Abu Vulkanik Menyebar hingga Sagamihara

Dalam video simulasi, abu vulkanik berdiameter sekitar 2 milimeter digambarkan jatuh di Sagamihara, Prefektur Kanagawa.

Kota tersebut berjarak sekitar 60 kilometer dari Gunung Fuji.

Setelah dua hari, lapisan abu setebal 20 sentimeter diperkirakan menutupi kawasan tersebut.

Kondisi ini tentu dapat memengaruhi aktivitas masyarakat sehari-hari.

Abu yang tebal juga bisa menimbulkan gangguan pada kesehatan dan peralatan rumah tangga.

Dampak ini menunjukkan bahwa letusan besar dapat berimbas jauh melampaui area sekitar gunung.

Deretan gedung pencakar langit terlihat dari jalan utama Stasiun Shinjuku pintu keluar timur.
Deretan gedung pencakar langit terlihat dari jalan utama Stasiun Shinjuku pintu keluar timur.

3. Shinjuku Bisa Tertutup Abu

Simulasi juga menampilkan bagaimana abu vulkanik Gunung Fuji bisa mencapai pusat kota Tokyo.

Sekitar dua hari setelah letusan, kawasan Shinjuku diperkirakan tertutup abu setebal lebih dari 5 sentimeter.

Abu ini akan menutupi jalanan, gedung, hingga fasilitas umum di jantung ibu kota Jepang.

Kondisi tersebut tentu dapat mengganggu aktivitas harian warga.

Transportasi umum dan kegiatan ekonomi diperkirakan ikut terdampak.

Hal ini menegaskan betapa luasnya dampak letusan Gunung Fuji terhadap kehidupan di Tokyo.

4. Dampak pada Rumah Warga

Simulasi juga memperingatkan potensi kerusakan bangunan akibat abu vulkanik.

Jika abu menumpuk hingga 30 sentimeter dan bercampur air hujan, rumah-rumah kayu bisa mengalami kerusakan serius.

Sementara itu, hanya dengan 3 sentimeter abu basah saja, transportasi darat dapat terganggu.

Situasi ini menggambarkan bagaimana bencana vulkanik bisa memengaruhi berbagai aspek kehidupan.

Risiko ini menjadi alasan penting bagi masyarakat untuk memahami dan mempersiapkan diri menghadapi keadaan darurat.

© Kyodo News

@ohayo_jepang 📱Kenapa sih HP Jepang selalu bunyi waktu foto? Kalau kamu pakai HP versi Jepang, meskipun udah silent atau volume 0, suara ‘cekrek’-nya tetap bunyi keras! Bukan error, bukan HP-nya jadul… Tapi emang sengaja dibikin nggak bisa dimatiin. Biar nggak ada yang foto diam-diam, apalagi di tempat umum kayak kereta atau eskalator. Jadi kalau kamu bawa HP Jepang ke Indonesia, siap-siap agak heboh dikit tiap jepret 🤣 Kreator Konten: Salma Aichi Produser: Luthfi Kurniawan Penulis: Yuharrani Aisyah Polling: Aturan ini menurut kamu perlu gak sihh?? #OhayoJepang #HidupdiJepang #KerjadiJepang #MagangdiJepang #Tinggaldijepang #BudayaJepang ♬ suara asli - Ohayo Jepang
Halaman:
Editor : YUHARRANI AISYAH

Komentar

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
 
Pilihan Untukmu
Close Ads

Copyright 2008 - 2024 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.