Ohayo Jepang
Powered by

Share this page

Tersentuh Keramahan Orang Indonesia, Ini Kisah Perempuan Jepang yang Menjadi Mualaf

Kompas.com - 3/Oct/2019, 16:34 WIB
Ilustrasi ibadah di Masjid Tokyo.
Ilustrasi ibadah di Masjid Tokyo.

OhayoJepang - Nama saya Miyu, seorang mualaf dan juga mahasiswa tingkat akhir Keio University di Tokyo, Jepang. Pada artikel ini, saya ingin berbagi pengalaman saya mengenai bagaimana saya berkenalan dengan Islam serta tantangan yang saya hadapi sebagai seorang muslimah di Jepang.

Tiga tahun silam, saya mengenal Islam ketika saya pertama kali menginjakkan kaki di Indonesia untuk mengikuti program relawan dari kampus. Saya bertemu banyak orang Muslim di Indonesia.

Saya yang dulunya kerap melihat orang dengan kesan negatif, sangat takjub ketika melihat orang Indonesia pada umumnya yang sangat ramah, positif, dan terkesan selalu bahagia di kesehariannya. 

Saya merasa seperti akan selalu ada orang lain yang siap untuk membantu dan peduli jika saya berada dalam masalah. Saya begitu tersentuh dengan sifat saling menolong dari orang Indonesia.

Saya juga melihat orang-orang Indonesia yang terkesan selalu bahagia dan siap menolong bahkan membantu orang lain yang belum dikenal sekalipun. Saya pun bergumam dalam hati, “Apa yang menjadikan masyarakat Indonesia seperti demikian?”. 

Langkah saya selanjutnya adalah mencoba mempelajari agama Islam yang dianut lebih dari 80 persen populasi Indonesia. Sekembali dari Indonesia, saya mengambil kelas tentang agama Islam di kampus. Kelas ini diadakan oleh seorang dosen yang merupakan orang Jepang beragama Islam. Saya juga membaca buku-buku tentang Islam. 

Setelah saya kira-kira bisa memahami apa dan bagaimana itu Islam, saya membeli terjemahan Al-Quran dalam Bahasa Jepang. Saat saya mulai membacanya, ternyata ada banyak ayat di dalamnya yang berkaitan dengan kehidupan saya.

Sampai-sampai saya sempat meneteskan air mata ketika merasa ada ayat yang seakan-akan memberitahu saya untuk bangkit dari kegagalan yang pernah saya alami. 

Lalu ketika saya mencoba untuk melakukan sholat dan berdoa, ada saat-saat ketika apa yang saya doakan benar-benar menjadi nyata. Ada pula saat-saat ketika saya merasa lingkungan dan orang-orang di sekitar saya berubah menjadi lebih baik.

Saat itu juga saya percaya bahwa Allah itu benar-benar ada. Hingga akhirnya menjelang Ramadhan tahun lalu, saya memutuskan untuk mengucap dua kalimat syahadat.

Halaman:
Editor : Ni Luh Made Pertiwi F

Komentar

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.