Ohayo Jepang
Powered by

Share this page

Ketika “Setan” Dilempari Kacang, Tradisi Unik yang Hanya Ada di Jepang!

Kompas.com - 27/Feb/2019, 14:33 WIB
Ehomaki
Ehomaki

OhayoJepang - Ada sebuah perayaan unik yang dilakukan orang Jepang setiap tanggal tiga Februari yang disebut “Setsubun”. Pada perayaan ini orang jepang melakukan tradisi “Mame-maki”.

Pada tradisi ini seseorang akan berperan sebagai setan, sementara orang-orang lain akan melemparinya dengan kacang kedelai sambil merapal, "Fuku wa uchi, oni wa soto", yang berarti "Nasib baik masuklah, roh jahat keluarlah". Hal ini dipercaya dapat mengusir roh jahat dari rumah mereka.

Dengan mengusir roh jahat keluar, tindakan ini dipercaya dapat mendatangkan nasib baik selama setahun penuh. Selain dirayakan di rumah bersama keluarga, tradisi Mame-maki ini juga dilakukan di sekolah. Kadang kala tradisi ini dilaksanakan di tempat umum, seperti di pusat perbelanjaan atau di kuil.

Selain melakukan reka adegan pengusiran setan dalam ritual Setsubun ini, orang Jepang juga makan ehomaki yang dipercaya dapat mendatangkan keberuntungan. Legenda menyebutkan bahwa seseorang yang makan ehomaki secara hening pada arah keberuntungan yang sudah ditetapkan setiap tahunnya, maka permohonan orang itu akan terkabul.

Tradisi memakan ehoumaki pada saat Setsubun bermula di Osaka. Kebiasaan ini menjadi kebiasaan nasional pada masa peralihan periode Edo ke Meiji. Ehomaki yang dimakan adalah sejenis sushi gulung yang terdiri dari telur, kampyo (irisan sejenis labu yang dikeringkan), jamur shitake, dan tahu koya.

Pada masa awal tradisi ini dilakukan bahan yang dimasukkan ke dalam ehomaki merupakan bahan mewah yang tidak dapat dimakan setiap hari. Oleh karena itu, pada zaman dahulu memakan ehomaki merupakan hadiah yang diberikan untuk diri sendiri atas kerja keras yang telah dilakukan selama setahun.

Dari beragam jenis sushi yang ada, tradisi ini memilih untuk menggunakan sushi gulung, karena bentuk hoso-nagai (silinder panjang) dipercaya sebagai bentuk yang membawa keberuntungan di Jepang. Ehomaki harus dimakan secara utuh. Legenda mengatakan jika sushi ini dipotong dengan pisau, maka keberuntungan kita juga menjadi terpotong.

Acara Setsubun di kuil Osaka Tenmangu

Pada 3 Februari lalu, saat Setsubun berlangsung, penulis kami di Jepang mengikuti sebuah acara Setsubun yang diselenggarakan Osaka Nori Cooperative Association. Asosiasi ini mengadakan penjualan amal di kuil Shinto, Osaka Tenmangu. Mereka menjual rumput laut berkualitas tinggi dengan harga yang murah, serta membagi-bagikan ehomaki gratis untuk 1.000 pengunjung pertama.  

1.000 orang menerima ehomaki setelah menunggu dalam antrean
1.000 orang menerima ehomaki setelah menunggu dalam antrean

Banyak orang Jepang mengikuti acara ini. Mereka sudah mengantre sejak pagi, bahkan orang yang pertama datang sudah mengantre selama satu setengah jam sebelum pembagian tiket dimulai. Orang-orang ini mengantre demi mendapatkan ehomaki dan berpartisipasi dalam tradisi ini.

Meskipun hanya tersedia 1.000 voucher ehomaki gratis yang akan dibagikan, ada sekitar 1.600 orang yang mengantre. Jadi, banyak juga orang yang akhirnya tidak dapat. Untungnya, ada kedai yang menjual ehomaki dan makanan lezat lainnya di area acara ini.

Setelah ehomaki dibagikan, pengunjung yang beruntung dikumpulkan untuk mendapatkan pemberkatan dari pendeta Shinto di kuil tersebut. Pemberkatan ini merupakan sejenis penyucian. Setelah selesai, pengunjung memakan ehomaki bersama-sama dalam keheningan dengan menghadap ke arah keberuntungan tahun ini.

Panjang ehomaki yang dibagikan dalam acara ini adalah 20 centimeter. Hal ini menjadikannya sebuah prestasi jika mampu menghabiskan makanan besar itu. Jadi jika Anda berkesempatan untuk merasakan sendiri tradisi ini, pastikan perut Anda kosong sebelum datang ke acara.  

Seribu pengunjung bersama-sama memakan ehomaki dalam diam, sebuah pemandangan yang patut dilihat.
Seribu pengunjung bersama-sama memakan ehomaki dalam diam, sebuah pemandangan yang patut dilihat.

 

Tradisi yang tetap dijalankan oleh masyarakat Jepang modern ini pun dapat menjadi salah satu alasan untuk berlibur di Jepang saat musim dingin.  

Provided by Karaksa Media Partner (14 February 2019) 

Editor : Ni Luh Made Pertiwi F

KOMENTAR