Ohayo Jepang
Powered by

Share this page

Liburan “Anti-mainstream” di Jepang, Pengalaman Menginap di Kuil

Kompas.com - 12/Aug/2018, 16:21 WIB
Shukubo, menginap di Jiin (kuil Budha) ataupun Jinja (kuil Shinto), mencoba pengalaman yang tidak biasa seperti melakukan ritual pagi, menyalin kitab sutera Budha, maupun Zazen.
Shukubo, menginap di Jiin (kuil Budha) ataupun Jinja (kuil Shinto), mencoba pengalaman yang tidak biasa seperti melakukan ritual pagi, menyalin kitab sutera Budha, maupun Zazen.

OhayoJepang - Jika Anda ingin mencari ketenangan dan sesi refleksi diri sendiri secara seksama, maka ada pilihan Shukubo (penginapan di kuil) yang bisa menjadi pengalaman liburan tersendiri di Jepang. Anda bisa menginap di Jiin (kuil Budha) ataupun Jinja (kuil Shinto).

Di tempat ini, Anda bisa mencoba pengalaman yang tidak biasa seperti melakukan ritual pagi, menyalin kitab Sutra Budha, maupun Zazen (meditasi Zen dengan cara duduk dalam postur tubuh yang baik).

Aktivitas yang sangat cocok untuk menyegarkan pikiran dan tubuh. Kali ini, kami akan memperkenalkan tempat Anda bisa mencoba pengalaman Shukubo di Oita-ken, semenanjung Kunisaki.

Perjalanan refleksi diri di ruangan yang tidak biasa

Kuil-kuil yang tersebar di Oita-ken semenanjung Kunisaki secara kolektif disebut Rokugoumanzan. Daerah ini terkenal sebagai daerah Shinbutsu Shugo atau tempat terjalinnya kepercayaan Shinto dan Budaha secara mendalam. Sejak zaman purba, kawasan ini merupakan tempat untuk penganut kepercayaan pemuja gunung,

Monjusenji berada hampir di tengah semenanjung, di lereng gunung Monju
Monjusenji berada hampir di tengah semenanjung, di lereng gunung Monju

Sebagai kuil terbaik dalam kumpulan kuil Rokugomanzan adalah kuil Gabisan Monjusenji yang berada hampir di tengah semenanjung, di lereng gunung Monju. Kuil ini kabarnya sudah dibangun sejak tahun 648.

Berasal dari permohonan agar menghargai perasaan saat beribadah, maka pengalaman Shukubo di kuil Gabisan Monjusenji disebut dengan Shukubo Tokubetsu Sanpai (ibadah khusus Shukubo). Pagi-pagi sekali, ritual Zazen dan Goma-gyo (ritual membakar persembahan) diadakan saat masih belum ada siapapun yang berkunjung ke kuil yang tenang ini.  

Terdapat jam khusus untuk peserta. Meninggalkan hiruk-pikuk kota, di sini Anda bisa melakukan perjalanan refleksi diri untuk menyegarkan pikiran.

Hari pertama – Melakukan ritual Shakyo pada pukul 15:00

Menyalin dengan rapi saat Anda menjiplak dari atas model contoh, terakhir tambahkan kalimat permohonan (hal yang didoakan) dan tanggal, serta tulis nama Anda
Menyalin dengan rapi saat Anda menjiplak dari atas model contoh, terakhir tambahkan kalimat permohonan (hal yang didoakan) dan tanggal, serta tulis nama Anda

Menyalin dengan rapi saat Anda menjiplak dari atas model contoh, terakhir tambahkan kalimat permohonan (hal yang didoakan) dan tanggal, serta tulis nama Anda. Apabila berkonsentrasi secara perlahan selama kira-kira satu jam untuk menyalin sekiranya 290 huruf, setelahnya pikiran dan tubuh Anda akan rileks.

Lakukan aktivitas dari ajaran Buddha - Han'nyashinkyō ini dengan perasaan yang rileks. Pada saat Goma-gyou pada pagi berikutnya, persembahan didedikasikan bersamaan dengan pohon Goma dan berdoa agar dikabulkan.

Hari pertama – Makan malam pada pukul 18:30

Hidangan vegetarian untuk makan malam
Hidangan vegetarian untuk makan malam

Hidangan vegetarian untuk makan malam (hidangannya berbeda-beda tergantung musim). Makan tanpa mengeluarkan suara merupakan peraturan yang diminta untuk ditaati saat berada di kuil. Untuk sarapan pagi, hidangan yang disajikan sederhana, yaitu bubur dan sup Miso.

Hari kedua – Melakukan ritual Zazen pada pukul 06:00

Dalam ritual Zazen, duduk dengan postur tubuh yang benar dan jiwa yang bersatu
Dalam ritual Zazen, duduk dengan postur tubuh yang benar dan jiwa yang bersatu

Setelah bangun, segera melakukan ritual Zazen selama 30 menit. Duduk dengan postur tubuh yang benar dan jiwa yang bersatu. Dalam kesunyian alam, yang terdengar hanya suara burung. Setelah waktu berlalu selama 15 menit, apabila meminta, bungkukkan badan dan Anda akan dipukul dengan menggunakan tongkat.

Hari kedua – Melakukan ritual Goma pada pukul 6:45 pagi

Tumpuk pohon Goma di pot yang diletakkan di panggung yang sudah diberi sekat. Api yang berkobar tampak spektakuler.
Tumpuk pohon Goma di pot yang diletakkan di panggung yang sudah diberi sekat. Api yang berkobar tampak spektakuler.

Tumpuk pohon Goma di pot yang diletakkan di panggung yang sudah diberi sekat. Api yang berkobar tampak spektakuler. Wewangian yang dituang saat melangsungkan ritual ini akan membakar nafsu duniawi. Pada saat festival besar yang diadakan setiap tahun pada bulan November, 8.000 batang pohon Goma dibakar sebagai bentuk permohonan.

Kuil Gabisan Monjusenji
Alamat: Oita-ken,Kunisaki-shi, Kunisaki-machi, Daionji 2432
Jam buka: 9:00 - 16:30 (waktu berkunjung)
Sebaiknya konfirmasi terlebih dahulu sebelum datang karena ada hari saat mereka tidak menerima pengunjung.

Provided by Japan Walker™, Kyushu Walker™ (28th May 2018)


Editor : Ni Luh Made Pertiwi F

KOMENTAR